Friday, February 14, 2014

Kebaya Kutu Baru + Wiron Bumil

Well...I post this topic simply because my hard times on finding reference for the kebaya and wiron back when I was preparing myself to be one of the bridesmaid for one of my best friend wedding, which the wedding was held in a very beautiful Javanese tradition. So she asked us to wear the specific kebaya and wiron (which is a type of skirt made of batik) for the wedding day and not to mention she also asked us to up-do our hair to make it more Javanese.

So here you go...the look for the kebaya and wiron for pregnant moms :)


"kantong" buat perut


Kebaya + Wiron

my friend, Riffa, version of her wiron and kebaya
The pregnant mommies
 Some photos are courtesy of @RiffaRiffa

Monday, January 6, 2014

An Update About Ovalocytosis

Well..akhirnya setelah berminggu-minggu berusaha bertemu dengan hematolog yang direfer oleh obgyn saya, akhirnya beberapa minggu yang lalu saya berhasil bertemu dan konsultasi langsung dengan beliau. Hari itu saya datang ke rumah sakit dengan membawa beberapa hasil cek darah yang berkaitan dengan kondisi saya ini. Setelah saya menjelaskan kondisi yang saya alami, beliau langsung menyarankan saya untuk melakukan beberapa tes lanjutan yang sebenarnya lebih berhubungan dengan kondisi darah kental. Bingung? Sudah pasti...lah wong hasil ACA saya bagus kok. Namun akhirnya setelah berdiskusi dengan suami saya memutuskan untuk mengikuti anjuran dokter dan memeriksakan kembali darah saya di lab.

Seminggu kemudian saya kembali ke rumah sakit dengan berbekal hasil lab saya. Gak disangka-sangka ternyata saya malah memiliki kecenderugnan darah kental. Iya sih ACA dan Anti B2GP saya normal, tapi....fibrinogen dan d-dimer saya angkanya agak tinggi. Lalu hasil agregasi trombosit saya juga menunjukkan kalau ternyata saya memiliki darah yang cenderung lengket. Kaget gak sih...mau konsul apa yang ketauan malah apaan -____-"

Melihat hasil itu, beliau langsung meminta saya untuk mulai meminum obat pengencer darah. Ketika saya bertanya lagi tentang ovalositosis yang saya alami ini, beliau hanya menjawab kalau selama hb saya tidak rendah tidak akan apa-apa. Agak kurang puas sih dengan jawabannya karena sebenarnya saya penasaran kenapa bentuk sel darah merah saya bisa berubah padahal sebelumnya normal. Tapi di sisi lain agak lega karena beliau tidak menunjukkan kekhawatiran tentang ovalositosis ini. Mungkin karena ini biasanya penyakit genetis, tapi mungkin juga memang karena jika tidak ada keluhan apapun ya tidak apa-apa. Mungkin setelah melahirkan nanti saya akan coba cari second opinion paling tidak untuk sekedar memuaskan rasa penasaran saya hehehe. Well...3months to go! Hope everything will be okay!

Wednesday, November 13, 2013

Hamil dengan Southeast Asian Ovalocytosis

Di kehamilan kali ini saya berkenalan dengan satu kondisi baru yang namanya Southeast Asian Ovalocytosis (SAO). Saya juga baru tahu kalau saya punya "keanehan" ini setelah cek darah rutin untuk kehamilan. Selain panel cek darah rutin trisemester 1, obgyn saya juga meminta saya melalukan cek analisa gambaran darah tepi. Well, waktu hamil yang kemarin juga diminta sih dan hasilnya oke-oke saja. Ealah...ternyata kok ya yang ini malah aneh hasilnya. Eritrosit saya terkesan oval bentuknya. Southeast Asian Ovalocytosis atau Ovalositosis sendiri merupakan penyakit kelainan darah yang tandai oleh eritrosit berbentuk oval, kaku, dan resisten terhadap parasit malaria. Penyakit ini biasanya merupakan penyakit keturunan dan sangat umum di daerah Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Papua. Penyebabnya? Kalau menurut beberapa artikel di internet yang sempat saya baca, penyebabnya yang paling umum adalah kelainan genetik yang menyebabkan adanya mutasi di membran protein sel darah merah. Maka dari itu biasanya ini adalah penyakit keturunan.

Ini kira-kira perbandingan sel darah merah normal dan yang tidak. Ovalositosis yang bentuknya oval.

Kondisi ini bisa menyebabkan anemia dan jaundice pada bayi yang baru lahir. Namun untuk orang dewasa biasanya kondisi ini tidak menampakkan gejala yang berarti. Pada pemeriksaan lebih lanjut, kadang tampak pembesaran pada limpa dan pada kasus yang amat parah ada kemungkinan dilakukan pengangkatan limpa. Kasus ini juga sering menimbulkan komplikasi pada daerah ginjal atau bahkan batu ginjal.


Karena kondisi itu, lab yang bersangkutan menyarankan saya untuk melakukan cek analisa membran eritrosit. Jadilah obgyn saya meminta saya untuk melakukan tes tersebut. Oh iya untuk panel pengecekan ini cuma bisa dilakukan di laboratorium Eijkman yang letaknya disamping persis RSCM. Untuk melakukan tes darah ini, kita harus buat janji terlebih dahulu. Setelah keluar hasilnya, ternyata memang benar...saya positif Southeast Asian Ovalocytosis. Menurut dokter genetika yang menganalisa darah saya, hal ini terjadi karena adanya mutasi protein membran band 3. Kenapa itu bisa terjadi? Well..obgyn saya hanya bisa mereka-reka karena jujur dia katakan ini kasus yang amat langka. Malah selama 20 tahun dia praktek saya ini kasus yang ketiga yang pernah dia tangani. Maka dari itu saya dirujuk ke hematolog untuk konsultasi lebih lanjut.

Kemarin saya sudah mencoba konsul ke Prof. Karmel, hematolog yang cukup terkenal di Jakarta. Namun sayang, begitu saya sampai di tempat beliau praktek saya baru tahu kalau beliau sedang cuti minggu ini. Karena jadwal beliau yang kosong masih 2 minggu lagi, jadi lah saya disarankan oleh suster di klinik untuk konsul dengan dokter pengganti saja. Menurut susternya sama saja. Tapi sayang, tampaknya beliau kurang paham tentang SAO ini dan saya mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan. Setelah saya melakukan kontak obgyn saya, beliau menyarankan saya untuk menunggu Prof Karmel praktek dan berkonsul langsung dengan beliau. Jadi, we'll see how it actually is within the next 2 weeks *fingers crossed*.

Sebenarnya saya juga sudah coba "konsultasi" pada google. Namun karena ini merupakan kasus yang langka, maka artikel yang berkaitan dengan kondisi ini pun sangat jarang yang amat komprehensif. Apalagi artikel yang berkaitan dengan kehamilan.

Semoga saja kondisi ini tidak serius dan terutama tidak membahayakan janin ya...aamiin! Will do the update soon!

gambar diambil dari sini

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Hereditary_elliptocytosis
http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asian_ovalocytosis
http://www.healthcentral.com/ency/408/000566.html?ic=2602
http://tiasabrina.blogspot.com/2009/06/ovalositosis.html
http://bloodjournal.hematologylibrary.org/content/87/4/1656.full.pdf

as written on http://mommiesdaily.com/2013/11/12/hamil-dengan-southeast-asian-ovalocytosis/

Wednesday, October 30, 2013

A Note About Nursing While Pregnant

Sejujurnya saya gak pernah ngira kalau saya bakal mengalami fase nursing while pregnant ini. Well saya tahu sih itu mungkin banget dilakukan...tapi saya gak sangka kalau dalam "kasus" saya hal ini ternyata amat sangat mungkin sekali. Apalagi saya punya riwayat keguguran...jadi yah gak nyangka aja kalau I am that lucky to be able to still continue nursing while pregnant. Untungnya dari semenjak sebelum saya tahu kalau saya sedang hamil, saya gak ada keluhan yang "membahayakan" seperti kontraksi. Paling cuma nipple saya aja yang jadi super sensitif apalagi kalo gak sengaja kena gigi bayi...beuuhhh bener-bener MakNyuss rasanya.

Alasan saya buat keep on nursing even though I'm pregnant itu simple banget sih...tanggung! Pas tau hamil lagi...saya lagi proses slow potty training ke Sachi. I called it slow simply because emang belum intens aja potty train nya. Lalu setelah cek ternyata dokter saya gak masalah dan Alhamdulillah si bocil #2 juga sejauh ini perkembangannya baik-baik saja (dan semoga akan terus baik-baik saja)...jadi ya lanjut terus aja hohohoho. Mungkin ini juga faktor karena saya kerja dan Sachi udah gak minum ASIP lagi sejak setahun dan cuma mintan nenen kalau mau tidur, makanya nursing while pregnant yang saya jalani ini terbilang cukup mudah. Cuma paling keluhan utamanya jadi super laperan...apalagi kalau lagi di rumah dan bocahnya minta bobo siang pake nenen. Yah alibi baru lah buat beli macem-macem makanan XD

Anyway...since Sachi sebentar lagi mau ulang tahun yang kedua, jadi sekarang saya lagi coba masuk proses slow weaning. Si potty train terpaksa dinomerduakan mengingat katanya dua proses ini sebaiknya gak dijalanin barengan....takut anaknya malah stress. Kalau saya di rumah, saya tetap sih makein Sachi training pants, at least biar kulitnya bisa nafas aja. Tapi gak ngoyo potty train juga. Sejauh ini saya masih coba ajak ngobrol aja kalau Sachi udah gede, udah mau 2 tahun...dan selalu diakhiri dengan "nanti nenennya buat ade ya.." and she said "iya". Hopefully proses weaningnya bisa berjalan lancar :D

Wednesday, September 18, 2013

#2

Awalnya sih saya lagi dengerin curhatan temen saya yang tetiba kebobolan, eh kok pas denger saya ngerasa punya "gejala" yang sama kayak dia. Errr...sebenernya sih dari pas bulan puasa udah mulai curiga soalnya kok ya ini gak dapet2....terus udah sering godain suami juga...udah sempet cek juga 2 kali tapi negatif. Jadi lah saya mikir dengan super pede-nya "Ah paling cuma gara-gara hormon.." eh ya kok pas denger si temen curhat kok jadi ngerasa sama...

Gak mau lama-lama penasaran *ntar kebawa ngiggo pas tidur kan gak lucu* jadi lah saya "kabur" ke mini market terdekat buat beli testpack. Pas pulang langsung kabur ke kamar mandi buat tes...waktu itu suami masih asik main sama si bocil. Pas diliat hasilnya... *JENGJENGJENGGG...* ternyata positif juga sodarah sodarah! Langsung lah saya laporan sama si suami yang cuma bisa cengegesan pas tau hasil test nya *gigit si suami* terus langsung deh bikin janji sama obgyn langganan dan dapetnya seminggu lagi donggg *ngais tanah*. Sebenernya sempet panik juga soalnya pas seminggu sebelum lebaran kan kena tonsilitis aka infeksi amandel, terus pake acara minum obat segambreng yang satu diantaranya adalah antibiotik :-/ jadi kepikiran donnggg....ini si bocil #2 kenapa2 gak nih :-/

Pas jadwal berkunjung ke dokter tiba...saya langsung disambut si obgyn yang langsung bisa nebak kalau saya ketemu beliau karena hamil lagi hahahahaha *ya iya disuruh balik buat pap smear, KB plus suntik hpv malah gak dateng2*. Setelah ngasih info tentang hari terakhir haid plus sedikit refresh tentang kondisi kehamilan kemarin, langsung lah dilakukan cek usg buat memastikan bener apa gak hamilnya. Pas diliat...wuiiihhh rumahnya udah keliatan dan ada kemungkinan haid saya meleset lagi sama kayak hamil pertama. Soalnya janinnya kecil...gak sesuai usia prediksi kalau dari haid terakhir, tapi Alhamdulillah sejauh ini oke dan denyut jantungnya udah kedengeran walaupun pelan. Terus saya langsung cerita tentang kejadian sakit saya seminggu sebelum lebaran itu. Langsung deh cek ke apotik dan Alhamdulillah ternyata AB yang dikasih aman buat bumil hihihihi jadi legaaaaa deh. Semoga hamil yang sekarang lancar jaya kayak jalan tol yaaaa dan semoga bisa vbac *aamiin!*.


Monday, August 19, 2013

Disambangi Tikus

Jadi tadi pagi waktu saya lagi asik nyiapin makan siang dan sore buat si bocah tiba-tiba ada yang nyebrang dengan sopannya dari kolong kompor menuju lemari sepatu. It took me about a half second to realize that it was a RAT!!!  ARRGGGHHHH!!!!

Sebenernya ini bukan kali pertama rumah saya kemasukan tikus. Pas hamil kemarin si makhluk kacrut itu sempet juga numpang ngobrak ngabrik dapur selama beberapa hari di rumah. Sebelnya waktu itu pas saya ngeh pertama kali kalau kemungkinan ada tikus di rumah si suami malah super santai plus gak percaya. Sampai akhirnya suatu hari pas pulang ke rumah, tiba-tiba ada toples yang jatuh ke lantai dan gak lama *jengjengjeng* tikusnya panik trus kabur ke loteng! Langsung dong si suami masuk dapur tutup pintu terus ambil palu dan ngejer ke loteng. Tapi ehyakok di atas malah gak ada. Gak tau deh itu tikusnya ngumpet dimana. Saya coba taro lem tikus, eh malah dapet cicak. Saya coba taro jebakan tikus eh malah dicuekin. Dasar tikus sok jual mahal HIHHH!!!! Cuma setelah nebar racun tikus merek DORA tiba-tiba serangan tikusnya berhenti. Mungkin si tikus mati entah dimana.

Setelah setahunan lebih bebas dari gangguan tikus, tiba-tiba beberapa minggu yang lalu saya mulai dengar bunyi "cit...cit...citt" dari arah dapur/belakang rumah. Cuma kembali si suami terlalu santai dan bilang mungkin itu di genteng atau di saluran air di dapur. Ya udah dong saya santai. Ehyakok tadi pagi oknumnya tiba-tiba menampakan diri?!?!?! HIIYYYY!!!!!! Langsung dong saya bangunin suami yang langsung inspeksi dapur. Tapi kembaliiii si tikus udah pergi entah kemana. Akhirnya kembali si jebakan tikus diberdayakan lengkap dengan teri jengki sebagai umpan. Semoga sih tikusnya ketipu terus masuk ke jebakan.

Ehtapiya loteng rumah saya emang banyak barang-barang sisa renov rumah sebelum ditempatin kemari dan kayaknya itu jadi "daya tarik" tersendiri buat si tikus mampir. Bayangin aja ada kusen kayu bekas (yang udah debuan), sisa keramik, wastafel bekas dan sisa genteng. Lotengnya pun imut-imut dan diberdayakan juga sebagai tempat jemur baju. Sebenernya lagiii saya udah gatel banget pingin jual atau buang barang-barang itu, tapi si suami gak mau. Alesannya kalo ntar mau renov rumah kan bisa dipake lagi. Iya sih bisa dipake lagi tapi kapaannnnn?!?!?! Bisa-bisa pas mulai renov rumah barang-barangnya udah keburu lapuk -______- Padahal saya mencoba bersikap praktis...daripada nimbun barang buat sarang hewan yang diinginkan mending dijual/dikasih ke orang yang saat itu lagi butuh.

Anyways akhirnya tadi saya coba konsultasi ke mbah google dan juga beberapa teman tentang cara ngusir tikus yang efektif dan efisien. Dari situ saya dapet beberapa tips yang mau coba saya praktekin:

1. Taruh kamper atau kapur barus di tempat tikus biasa lewat. Kalau dari beberapa tips yang ada disaranin sih kapurnya dihancurin. Cuma saya takut kena angin terus masuk ke minuman/makanan jadi kayaknya mau tebar gitu aja tanpa dihancurin lebih dulu.

2. Memanfaatkan kopi bubuk yang aromanya tajam atau minyak mint atau minyak kayu putih atau buah mengkudu atau kulit duren. Caranya sama, cukup ditebar di tempat tikus biasa bersarang/lewat. Kalau minyak-minyakan disiram dulu ke kardus terus baru ditaro di tekapenya. Katanya sih tikus gak suka sama baunya yang tajam.


3. Memelihara jangkrik. Ternyata tikus gak suka sama suara jangkrik..menurut mereka itu mirip suara ular (darimana miripnya ya?).

4. Memelihara kucing si predator alami tikus. Ini agak susah...saya sama suami gak telaten miara binantang.

5. Nah ini cara yang agak mahal, pake alat pengusir tikus yang memanfaatkan gelombang ultrasonik.

Dari beberapa cara tersebut kayaknya sih saya mau coba cara pertama dulu...plus memanfaatkan jebakan tikus dan juga lem tikus. Plusss saya juga akan "memaksa" suami untuk masang ram di beberapa lokasi saluran air dan kembali inspeksi loteng. Kali-kali ada lubang baru yang gak keliatan. Semoga si tikus cepet keluar rumah...aamiin!


Thursday, August 15, 2013

Breastfeeding While Having Dengue Fever, Thyphoid, Tonsilitis and Swollen Nodes

First of all...nope semua penyakit itu untungnya gak saya "dapat" secara berbarengan. Semua berawal dari gejala mirip flu yang muncul di hari Minggu siang waktu itu. Pas lagi jalan-jalan bareng keluarga kok ya tiba-tiba badan sakit-sakit dan malemnya malah makin parah...saya mulai demam. Karena saya kira flu ya udah saya bawa tidur aja sambil kemulan. Eh ya kok besoknya malah jadi gak bisa makan.Begitu 3 hari panasnya gak hilang-hilang akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dokter umum. Cuma sayang...dokter yang saya datangi tidak terlalu RUM. Diagnosa sementara memang "hanya" radang tenggorokan, tapi saya sudah dikasih berbagai obat paten termasuk antibiotik. I ended up only take one dose of each meds prescribed simply karena gak yakin sama diagnosanya.

Setelah besoknya si sakit ini gak makin baik akhirnya saya memeriksakan diri ke internist langganan saya. Yah memang beliau juga tidak terlalu RUM sih, cuma paling tidak dia cukup kooperatif dan gak akan memberi obat yang gak diperlukan. Begitu masuk ruang praktek saya langsung diperiksa dan setelah saya cerita semua keluhan saya diberi resep dan pengantar lab plus pengatar kalau-kalau saya harus rawat inap. Oh iya pas diberi resep saya menginformasikan juga kalau saya masih menyusui jadi diberi resep yang aman untuk ibu menyusui. Setelah selesai saya langsung ke lab untuk cek darah. Ternyata hasilnya....saya positif tifoid (atau tifus) dan positif lemah DB. Karena internist saya sudah selesai prakteknya, jadilah besok saya kembali lagi memberikan hasilnya. Untungnya karena trombosit saya masih cukup tinggi jadi saya hanya perlu pantau trombosit saja (yang artinya regular visit to the hospital back and forth) plus konsumsi antibiotik dan beberapa obat lainnya.

Well sebenarnya ada juga sih beberapa orang yang dirawat tanpa antibiotik, cuma dari yang saya baca dia dirawat di rumah sakit...sedangkan saya "nekat" pilih rawat jalan. Even sebenarnya lebih enak rawat inap, tapi ya kalau rawat inap kasian si bocil gak ada yang nguirusin. Untungnya semakin hari trombosit saya terus naik jadi Alhamdulillah gak ada hal-hal serius lain yang harus dikhawatirkan. Saya hanya harus menyelesaikan pengobatan saya dan banyak istirahat plus makan sehat (yang pada prakteknya agak susah ya...apalagi saya gak ada ART). Untung si ayah work at home dad jadi bisa "direpotin" macem2 hehehehe.

Nah...baru sebulanan sembuh total dari penyakit yang totally self limiting itu eh kok tiba-tiba si serangan badan sakit-sakit plus meriang dateng lagi. Cuma kali ini sakitnya dibarengin sama rasa gak nyaman di tenggorokan terutama sebelah kanan. Kembali saya kira ini batpil biasa jadi ya cuek bebek aja. Cuma kok setelah 3 hari amandel saya jadi bengkak plus rahang saya mulai sakit dan terasa sedikit bengkak. Saya sempat iseng cek "keadaan" tenggorokan dan amandel saya...eh kok ya kayak ada sariawan di situ (yang ternyata setelah browsing itu bukan sariawan tapi semacam "bercak" yang menandakan ada infeksi amandel. Yang horornya lagi...malam sebelum akhirnya saya memutuskan untuk cek ke dokter tiba-tiba saya mimisan T_T banyak banget lagi T_T. Jadilah besok harinya saya pergi untuk cek ke THT. Setelah diperiksa dokter THT nya bilang saya kena infeksi amandel yang berasal dari sinusitis saya. Cuma dokternya kurang kooperatif. ketika saya menginformasikan kalau saya masih menyusui dia malah bilang "Yah terus gimana dong...ini harus pakai antibiotik". Lah padahal kan kalau memang perlu AB ya gak papa kan bisa tolong dibantuk resep AB yang memang aman untuk ibu menyusui. Jadilah si resepnya gak saya ambil dan saya malah jalan ke mall sambil ngabuburit (kebetulan waktu itu pas lagi puasa) plus bukpusbar sama beberapa teman.

Besoknya rahang dan amandel saya makin bengkak. Ternyata rahang yang bengkak itu akibat kelenjar limfe yang ada di leher juga ikut membengkak. Kayaknya sih infeksinya sudah agak parah. Lalu si mimisan terus muncul, kali ini dibarengi lendir yang kental. Karena takut ada apa-apa yang serius akhirnya saya pergi lagi ke dokter THT lain di RS Proklamasi. Karena gak tau harus ke dokter yang mana, saya memasrahkan diri kepada petugas untuk memilihkan dokter THT yang sedang praktek. Ternyata pilihan si petugas ini gak sesuai dengan saya. Selain si dokter agak judes...dia juga terus-terusan bilang kalau amandel saya harus dioperasi. Bukannya bikin tenang malah bikin makin panik -______-" cuma untungnya beliau cukup kooperatif. Ketika saya menginformasikan kalau saya masih menyusui, beliau memberikan resep yang aman untuk ibu menyusui. Alhamdulillah dalam waktu 3 hari, perlahan tapi pasti amandel saya membaik dan setelah hari ke 5 amandel dan kelenjar limfe saya kembali ke ukuran normal *yeay!*.

Untunglah selama sakit dan mengkonsumsi berdosis-dosis obat plus antibiotik itu gak ada masalah berarti dalam menyusui. Plus si bocah juga sejauh ini gak apa-apa :D padahal sempet kuatir juga si bocil kena side effect obat yang mungkin masuk ke ASI. Luckily setelah browsing-browsing obat-obat yang saya konsumsi memang aman untuk busui hehehehe. Moral of the story...ternyata cara cepat (dan gak enak) jadi kurus itu adalah sakit (salah fokus)....ehem okay fokus...jadi moral of the story memang masakan rumahan itu yang terbaik...selain tau takaran dan apa campurannya juga pastinya lebih bersih dan sehat.