Monday, June 22, 2015
Another 1st Birthday
Saturday, April 18, 2015
My Review on Being A Stay At Home Mom
Tuesday, October 14, 2014
The Tongue Tie Drama
Hari-hari pertama menyusui si Yoshio sebenarnya tidak terlalu sulit. Well ada drama puting lecet sih. Tapi saya berpikir kan si bayi ini masih belajar dan saya pun juga kembali menyesuaikan diri untuk menjadi busui kembali, jadi ya...saya gak terlalu memikirkan drama ini. Terbukti, setelah 2 minggu berlalu drama puting lecet ini pun menghilang...jadi ya saya santai saja. Apalagi bb Yoshio juga cukup baik.
Lalu begitu memasuki bulan kedua tiba-tiba saja Yoshio mengeluarkan suara seperti berdecak setiap menyusu. Saya coba koreksi perlekatannya..tapi kok ya gak ada perubahan. Seperti layaknya orang tua modern yang lain, di tengah kebingungan itu saya langaung berguru ke mbah google. Lah ya kok malah diarahin ke tongue tie...yang ada saya malah tambah bingung. Sejauh ini bb Yoshio naiknya amat baik, pipisnya juga selalu lebih dr 6x sehari dan gak pernah rewel kayak kurang asi. Yah akhirnya daripada nebak-nebak ditambah suara decakan yang makin dirasa ganggu, saya pun pergi ke klinik laktasi terdekat di hermina bekasi.
Disana saya bertemu dengan dokter Irma. Setelah di review cara menyusu dan juga memeriksa anatomi lidah Yoshio, ternyata Yoshio tongue tie tipe 4 atau posterior toungue tie dan juga lip tie *jengjeeenngg*. Si tongue tie tipe ini memang yang paling gam keliatan karena kayak "ngumpet" di dalam lidah dan hanya ketahuan kalau diraba. Ternyata hal ini juga yang jadi penyebab bocahnya sering muntah. Well..soal yang muntah ini emang gak terlalu dipikirin banget sih..saya cuma mikir si bocah kebanyakan minum atau memang efek belum sendawa saja. Tapi menurut dokter Irma, kedua masalah Yoshio itu membuat banyak udara masuk ke pencernaannya. Makanya Yoshio jadi sering muntah. Tapi memang bb nya yang terbilang baik membuat tongue tie ini gak jd problem gede. Cuma saya sih takut kalau dibiarkan malah jadi nambah masalah nantinya. Akhirny saya dan si ayah setuju untuk meng-insisi Yoshio. Prosesny terbilang cepat. Gak sampai 10 menit Yoshio sudah dikembalikan ke saya untuk langsung disusui. Setelah itu saya langsung diajari "senam lidah" yang tujuannya agar si luka insisi tidak menutup kembali.
Saya kira masalahnya sudah selesai sampai disitu. Tapi ternyata dramanya masih berlanjut saudara-saudara! *lap keringet* Yoshio masih juga "berbunyi" saat menyusu dan masih juga muntah. Saya sempat berpikir apa jangan-jangan luka insisi-nya sudah menutup jadi lidah Yoshio tetap tertahan. Atau jangan-jangan malah insisinya kurang bagus jadi harus diulang. Ah well akhirnya saya kembali berguru ke mbah google. Ternyata I'm not alone...banyak ibu-ibu yang mengalami kejadian serupa. Well rata2 penjelasannya sih karena si bayi sudah terlanjur nyaman dengan perlekatan yang salah, jadi ya memang harus diajari lagi pelan-pelan.
Di website ini saya menemukan teknik yang disebut "tug of war". Pada dasarnya teknik ini bertujuan untuk melatih kembali si bayi cara menggunakan lidahnya dan juga agar si ikatan ini melentur. Caranya juga cukup mudah, basically si bayi diminta untuk menghisap sesuatu (bisa menggunakan empeng atau jari si ibu) lalu perlahan benda itu ditarik keluar untuk memancing si bayi menarik kembali bendanya dengan lidahnya. Saya melakukan teknik ini 2-3x sehari dan biasanya sekalian dengan senam lidah. Memang sih hasilnya gak langsung kelihatan, tapi setelah sekitar 3 mingguan akhirnya gak ada lagi suara berdecak yang terdengar waktu nenen *yeaayy!!!*. Selain itu ternyata Yoshio juga lebih bisa "diajari" perlekatan yang benar ketika nenen sambil tiduran. Ah well memang posisi menentukan prestASI. Semoga kerikil kerikil kala menyusui di kemudian hari lebih mudah dilewati. Semangat ng-ASI!!!
Thursday, August 28, 2014
The One With The VBAC
Kemudian di 39w hari yang dinanti pun tiba. Sekitar seminggu sebelumnya saya mulai mengalami kontraksi rutin di tengah malam, tapi menghilang waktu pagi hari dan kembali muncul di waktu siang atau sore. Tiba-tiba saja di h-2 saya terbangun dan menemukan ada flek coklat di undies. Agak panik sih apalagi kontraksinya mulai rutin. Setelah ngobrol dengan beberapa teman saya pun memutuskan untuk gak jadi ngantor dan jalan-jalan di mall deket rumah. Maksudnya sih buat mancing si bocil biar keluar gitu. Pas sore harinya tiba-tiba saya menemukan darah segar di undies saya. Makin panik, saya pun memutuskan buat langsung ke RS. Tapi pas sampe kok ya kontraksinya malah hilang. Akhirnya bidan jaga pun mempersilahkan saya untuk pulang.
Besoknya saya merasa kontraksi semakin rutin. Cuma karena inget kejadian hari sebelumnya saya pun memutuskan untuk beraktivitas seperti biasa sampai si kontraksi datang semakin rutin dan tidak bisa ditahan lagi. Saya malah sempat tidur siang harinya even sambil nahan serunya kontraksi huehehehe.
Akhirnya jam 2 pagi saya pun gak tahan lagi dan langsung bangunin suami buat nganter saya ke rumah sakit. Sachiko pun langsung dititip di rumah atung eni nya dan kami langsung berangkat ke rumah sakit. Begitu sampai dan diperiksa oleh bidan jaga...ternyata saya sudah bukaan 5 hahahaaha not bad for a rookie! Lalu dimulailah drama menikmati kontraksi sambil menanti bukaan. Saya beruntung bukaan saya maju dengan cepat dan hanya dalam waktu sekitar 4 jam bukaan saya sudah lengkap. Mungkin pengaruh saya mempraktekan tidur miring ke kiri sesuai dengan instruksi bidan jaga, meski kontraksinya jadi makin luar biasa rasanya, tapi bukaan jadi makin cepat lajunya. Satu hal yang cukup berkesan dari menanti bukaan adalah si suami yang malah main game di laptop dan bukan menenangkan si istri yang sedang menanti detik-detik persalinan *ngok*.
Pucuk dicinta ulam tiba *tsaelah* akhirnya sekitar jam 6an bidan yang memeriksa bilang bukaan sudah lengkap dan saya diperbolehkan mengejan *tebar confetti*. Setelah agak susah payah mengejan akhirnya tepat jam 7.10 pagi si bocil lahir juga dengan sehat dan selamat. Alhamdulillah meskipun susah dan persiapannya cuma setengah-setengah, saya bisa melahirkan dengan cara vbac. Meski pake drama ketuban rembes plus gak tahan ngeden di bukaan 8 akhirnya saya bisa juga ngerasain proses persalinan normal. Kalau dikasih kesempatan lagi saya mau bener-bener mendalami hypnobirth karena ternyata nahan ngeden yang rasanya aduhay itu cukup menggoda iman buat langsung sc aja ahahaahha *self toyor*.
![]() |
| 5 minutes old Yoshio :) |
Friday, February 14, 2014
Kebaya Kutu Baru + Wiron Bumil
So here you go...the look for the kebaya and wiron for pregnant moms :)
![]() |
| "kantong" buat perut |
![]() |
| Kebaya + Wiron |
![]() |
| my friend, Riffa, version of her wiron and kebaya |
![]() |
| The pregnant mommies |
Monday, January 6, 2014
An Update About Ovalocytosis
Seminggu kemudian saya kembali ke rumah sakit dengan berbekal hasil lab saya. Gak disangka-sangka ternyata saya malah memiliki kecenderugnan darah kental. Iya sih ACA dan Anti B2GP saya normal, tapi....fibrinogen dan d-dimer saya angkanya agak tinggi. Lalu hasil agregasi trombosit saya juga menunjukkan kalau ternyata saya memiliki darah yang cenderung lengket. Kaget gak sih...mau konsul apa yang ketauan malah apaan -____-"
Melihat hasil itu, beliau langsung meminta saya untuk mulai meminum obat pengencer darah. Ketika saya bertanya lagi tentang ovalositosis yang saya alami ini, beliau hanya menjawab kalau selama hb saya tidak rendah tidak akan apa-apa. Agak kurang puas sih dengan jawabannya karena sebenarnya saya penasaran kenapa bentuk sel darah merah saya bisa berubah padahal sebelumnya normal. Tapi di sisi lain agak lega karena beliau tidak menunjukkan kekhawatiran tentang ovalositosis ini. Mungkin karena ini biasanya penyakit genetis, tapi mungkin juga memang karena jika tidak ada keluhan apapun ya tidak apa-apa. Mungkin setelah melahirkan nanti saya akan coba cari second opinion paling tidak untuk sekedar memuaskan rasa penasaran saya hehehe. Well...3months to go! Hope everything will be okay!
Wednesday, November 13, 2013
Hamil dengan Southeast Asian Ovalocytosis
![]() | |
| Ini kira-kira perbandingan sel darah merah normal dan yang tidak. Ovalositosis yang bentuknya oval. |
Kondisi ini bisa menyebabkan anemia dan jaundice pada bayi yang baru lahir. Namun untuk orang dewasa biasanya kondisi ini tidak menampakkan gejala yang berarti. Pada pemeriksaan lebih lanjut, kadang tampak pembesaran pada limpa dan pada kasus yang amat parah ada kemungkinan dilakukan pengangkatan limpa. Kasus ini juga sering menimbulkan komplikasi pada daerah ginjal atau bahkan batu ginjal.
Karena kondisi itu, lab yang bersangkutan menyarankan saya untuk melakukan cek analisa membran eritrosit. Jadilah obgyn saya meminta saya untuk melakukan tes tersebut. Oh iya untuk panel pengecekan ini cuma bisa dilakukan di laboratorium Eijkman yang letaknya disamping persis RSCM. Untuk melakukan tes darah ini, kita harus buat janji terlebih dahulu. Setelah keluar hasilnya, ternyata memang benar...saya positif Southeast Asian Ovalocytosis. Menurut dokter genetika yang menganalisa darah saya, hal ini terjadi karena adanya mutasi protein membran band 3. Kenapa itu bisa terjadi? Well..obgyn saya hanya bisa mereka-reka karena jujur dia katakan ini kasus yang amat langka. Malah selama 20 tahun dia praktek saya ini kasus yang ketiga yang pernah dia tangani. Maka dari itu saya dirujuk ke hematolog untuk konsultasi lebih lanjut.
Kemarin saya sudah mencoba konsul ke Prof. Karmel, hematolog yang cukup terkenal di Jakarta. Namun sayang, begitu saya sampai di tempat beliau praktek saya baru tahu kalau beliau sedang cuti minggu ini. Karena jadwal beliau yang kosong masih 2 minggu lagi, jadi lah saya disarankan oleh suster di klinik untuk konsul dengan dokter pengganti saja. Menurut susternya sama saja. Tapi sayang, tampaknya beliau kurang paham tentang SAO ini dan saya mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan. Setelah saya melakukan kontak obgyn saya, beliau menyarankan saya untuk menunggu Prof Karmel praktek dan berkonsul langsung dengan beliau. Jadi, we'll see how it actually is within the next 2 weeks *fingers crossed*.
Sebenarnya saya juga sudah coba "konsultasi" pada google. Namun karena ini merupakan kasus yang langka, maka artikel yang berkaitan dengan kondisi ini pun sangat jarang yang amat komprehensif. Apalagi artikel yang berkaitan dengan kehamilan.
Semoga saja kondisi ini tidak serius dan terutama tidak membahayakan janin ya...aamiin! Will do the update soon!
gambar diambil dari sini
Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Hereditary_elliptocytosis
http://en.wikipedia.org/wiki/Southeast_Asian_ovalocytosis
http://www.healthcentral.com/ency/408/000566.html?ic=2602
http://tiasabrina.blogspot.com/2009/06/ovalositosis.html
http://bloodjournal.hematologylibrary.org/content/87/4/1656.full.pdf
as written on http://mommiesdaily.com/2013/11/12/hamil-dengan-southeast-asian-ovalocytosis/
Wednesday, October 30, 2013
A Note About Nursing While Pregnant
Alasan saya buat keep on nursing even though I'm pregnant itu simple banget sih...tanggung! Pas tau hamil lagi...saya lagi proses slow potty training ke Sachi. I called it slow simply because emang belum intens aja potty train nya. Lalu setelah cek ternyata dokter saya gak masalah dan Alhamdulillah si bocil #2 juga sejauh ini perkembangannya baik-baik saja (dan semoga akan terus baik-baik saja)...jadi ya lanjut terus aja hohohoho. Mungkin ini juga faktor karena saya kerja dan Sachi udah gak minum ASIP lagi sejak setahun dan cuma mintan nenen kalau mau tidur, makanya nursing while pregnant yang saya jalani ini terbilang cukup mudah. Cuma paling keluhan utamanya jadi super laperan...apalagi kalau lagi di rumah dan bocahnya minta bobo siang pake nenen. Yah alibi baru lah buat beli macem-macem makanan XD
Anyway...since Sachi sebentar lagi mau ulang tahun yang kedua, jadi sekarang saya lagi coba masuk proses slow weaning. Si potty train terpaksa dinomerduakan mengingat katanya dua proses ini sebaiknya gak dijalanin barengan....takut anaknya malah stress. Kalau saya di rumah, saya tetap sih makein Sachi training pants, at least biar kulitnya bisa nafas aja. Tapi gak ngoyo potty train juga. Sejauh ini saya masih coba ajak ngobrol aja kalau Sachi udah gede, udah mau 2 tahun...dan selalu diakhiri dengan "nanti nenennya buat ade ya.." and she said "iya". Hopefully proses weaningnya bisa berjalan lancar :D
Wednesday, September 18, 2013
#2
Gak mau lama-lama penasaran *ntar kebawa ngiggo pas tidur kan gak lucu* jadi lah saya "kabur" ke mini market terdekat buat beli testpack. Pas pulang langsung kabur ke kamar mandi buat tes...waktu itu suami masih asik main sama si bocil. Pas diliat hasilnya... *JENGJENGJENGGG...* ternyata positif juga sodarah sodarah! Langsung lah saya laporan sama si suami yang cuma bisa cengegesan pas tau hasil test nya *gigit si suami* terus langsung deh bikin janji sama obgyn langganan dan dapetnya seminggu lagi donggg *ngais tanah*. Sebenernya sempet panik juga soalnya pas seminggu sebelum lebaran kan kena tonsilitis aka infeksi amandel, terus pake acara minum obat segambreng yang satu diantaranya adalah antibiotik :-/ jadi kepikiran donnggg....ini si bocil #2 kenapa2 gak nih :-/
Pas jadwal berkunjung ke dokter tiba...saya langsung disambut si obgyn yang langsung bisa nebak kalau saya ketemu beliau karena hamil lagi hahahahaha *ya iya disuruh balik buat pap smear, KB plus suntik hpv malah gak dateng2*. Setelah ngasih info tentang hari terakhir haid plus sedikit refresh tentang kondisi kehamilan kemarin, langsung lah dilakukan cek usg buat memastikan bener apa gak hamilnya. Pas diliat...wuiiihhh rumahnya udah keliatan dan ada kemungkinan haid saya meleset lagi sama kayak hamil pertama. Soalnya janinnya kecil...gak sesuai usia prediksi kalau dari haid terakhir, tapi Alhamdulillah sejauh ini oke dan denyut jantungnya udah kedengeran walaupun pelan. Terus saya langsung cerita tentang kejadian sakit saya seminggu sebelum lebaran itu. Langsung deh cek ke apotik dan Alhamdulillah ternyata AB yang dikasih aman buat bumil hihihihi jadi legaaaaa deh. Semoga hamil yang sekarang lancar jaya kayak jalan tol yaaaa dan semoga bisa vbac *aamiin!*.
Monday, August 19, 2013
Disambangi Tikus
Sebenernya ini bukan kali pertama rumah saya kemasukan tikus. Pas hamil kemarin si makhluk kacrut itu sempet juga numpang ngobrak ngabrik dapur selama beberapa hari di rumah. Sebelnya waktu itu pas saya ngeh pertama kali kalau kemungkinan ada tikus di rumah si suami malah super santai plus gak percaya. Sampai akhirnya suatu hari pas pulang ke rumah, tiba-tiba ada toples yang jatuh ke lantai dan gak lama *jengjengjeng* tikusnya panik trus kabur ke loteng! Langsung dong si suami masuk dapur tutup pintu terus ambil palu dan ngejer ke loteng. Tapi ehyakok di atas malah gak ada. Gak tau deh itu tikusnya ngumpet dimana. Saya coba taro lem tikus, eh malah dapet cicak. Saya coba taro jebakan tikus eh malah dicuekin. Dasar tikus sok jual mahal HIHHH!!!! Cuma setelah nebar racun tikus merek DORA tiba-tiba serangan tikusnya berhenti. Mungkin si tikus mati entah dimana.
Setelah setahunan lebih bebas dari gangguan tikus, tiba-tiba beberapa minggu yang lalu saya mulai dengar bunyi "cit...cit...citt" dari arah dapur/belakang rumah. Cuma kembali si suami terlalu santai dan bilang mungkin itu di genteng atau di saluran air di dapur. Ya udah dong saya santai. Ehyakok tadi pagi oknumnya tiba-tiba menampakan diri?!?!?! HIIYYYY!!!!!! Langsung dong saya bangunin suami yang langsung inspeksi dapur. Tapi kembaliiii si tikus udah pergi entah kemana. Akhirnya kembali si jebakan tikus diberdayakan lengkap dengan teri jengki sebagai umpan. Semoga sih tikusnya ketipu terus masuk ke jebakan.
Ehtapiya loteng rumah saya emang banyak barang-barang sisa renov rumah sebelum ditempatin kemari dan kayaknya itu jadi "daya tarik" tersendiri buat si tikus mampir. Bayangin aja ada kusen kayu bekas (yang udah debuan), sisa keramik, wastafel bekas dan sisa genteng. Lotengnya pun imut-imut dan diberdayakan juga sebagai tempat jemur baju. Sebenernya lagiii saya udah gatel banget pingin jual atau buang barang-barang itu, tapi si suami gak mau. Alesannya kalo ntar mau renov rumah kan bisa dipake lagi. Iya sih bisa dipake lagi tapi kapaannnnn?!?!?! Bisa-bisa pas mulai renov rumah barang-barangnya udah keburu lapuk -______- Padahal saya mencoba bersikap praktis...daripada nimbun barang buat sarang hewan yang diinginkan mending dijual/dikasih ke orang yang saat itu lagi butuh.
Anyways akhirnya tadi saya coba konsultasi ke mbah google dan juga beberapa teman tentang cara ngusir tikus yang efektif dan efisien. Dari situ saya dapet beberapa tips yang mau coba saya praktekin:
1. Taruh kamper atau kapur barus di tempat tikus biasa lewat. Kalau dari beberapa tips yang ada disaranin sih kapurnya dihancurin. Cuma saya takut kena angin terus masuk ke minuman/makanan jadi kayaknya mau tebar gitu aja tanpa dihancurin lebih dulu.
2. Memanfaatkan kopi bubuk yang aromanya tajam atau minyak mint atau minyak kayu putih atau buah mengkudu atau kulit duren. Caranya sama, cukup ditebar di tempat tikus biasa bersarang/lewat. Kalau minyak-minyakan disiram dulu ke kardus terus baru ditaro di tekapenya. Katanya sih tikus gak suka sama baunya yang tajam.
3. Memelihara jangkrik. Ternyata tikus gak suka sama suara jangkrik..menurut mereka itu mirip suara ular (darimana miripnya ya?).
4. Memelihara kucing si predator alami tikus. Ini agak susah...saya sama suami gak telaten miara binantang.
5. Nah ini cara yang agak mahal, pake alat pengusir tikus yang memanfaatkan gelombang ultrasonik.
Dari beberapa cara tersebut kayaknya sih saya mau coba cara pertama dulu...plus memanfaatkan jebakan tikus dan juga lem tikus. Plusss saya juga akan "memaksa" suami untuk masang ram di beberapa lokasi saluran air dan kembali inspeksi loteng. Kali-kali ada lubang baru yang gak keliatan. Semoga si tikus cepet keluar rumah...aamiin!
Thursday, August 15, 2013
Breastfeeding While Having Dengue Fever, Thyphoid, Tonsilitis and Swollen Nodes
Setelah besoknya si sakit ini gak makin baik akhirnya saya memeriksakan diri ke internist langganan saya. Yah memang beliau juga tidak terlalu RUM sih, cuma paling tidak dia cukup kooperatif dan gak akan memberi obat yang gak diperlukan. Begitu masuk ruang praktek saya langsung diperiksa dan setelah saya cerita semua keluhan saya diberi resep dan pengantar lab plus pengatar kalau-kalau saya harus rawat inap. Oh iya pas diberi resep saya menginformasikan juga kalau saya masih menyusui jadi diberi resep yang aman untuk ibu menyusui. Setelah selesai saya langsung ke lab untuk cek darah. Ternyata hasilnya....saya positif tifoid (atau tifus) dan positif lemah DB. Karena internist saya sudah selesai prakteknya, jadilah besok saya kembali lagi memberikan hasilnya. Untungnya karena trombosit saya masih cukup tinggi jadi saya hanya perlu pantau trombosit saja (yang artinya regular visit to the hospital back and forth) plus konsumsi antibiotik dan beberapa obat lainnya.
Well sebenarnya ada juga sih beberapa orang yang dirawat tanpa antibiotik, cuma dari yang saya baca dia dirawat di rumah sakit...sedangkan saya "nekat" pilih rawat jalan. Even sebenarnya lebih enak rawat inap, tapi ya kalau rawat inap kasian si bocil gak ada yang nguirusin. Untungnya semakin hari trombosit saya terus naik jadi Alhamdulillah gak ada hal-hal serius lain yang harus dikhawatirkan. Saya hanya harus menyelesaikan pengobatan saya dan banyak istirahat plus makan sehat (yang pada prakteknya agak susah ya...apalagi saya gak ada ART). Untung si ayah work at home dad jadi bisa "direpotin" macem2 hehehehe.
Nah...baru sebulanan sembuh total dari penyakit yang totally self limiting itu eh kok tiba-tiba si serangan badan sakit-sakit plus meriang dateng lagi. Cuma kali ini sakitnya dibarengin sama rasa gak nyaman di tenggorokan terutama sebelah kanan. Kembali saya kira ini batpil biasa jadi ya cuek bebek aja. Cuma kok setelah 3 hari amandel saya jadi bengkak plus rahang saya mulai sakit dan terasa sedikit bengkak. Saya sempat iseng cek "keadaan" tenggorokan dan amandel saya...eh kok ya kayak ada sariawan di situ (yang ternyata setelah browsing itu bukan sariawan tapi semacam "bercak" yang menandakan ada infeksi amandel. Yang horornya lagi...malam sebelum akhirnya saya memutuskan untuk cek ke dokter tiba-tiba saya mimisan T_T banyak banget lagi T_T. Jadilah besok harinya saya pergi untuk cek ke THT. Setelah diperiksa dokter THT nya bilang saya kena infeksi amandel yang berasal dari sinusitis saya. Cuma dokternya kurang kooperatif. ketika saya menginformasikan kalau saya masih menyusui dia malah bilang "Yah terus gimana dong...ini harus pakai antibiotik". Lah padahal kan kalau memang perlu AB ya gak papa kan bisa tolong dibantuk resep AB yang memang aman untuk ibu menyusui. Jadilah si resepnya gak saya ambil dan saya malah jalan ke mall sambil ngabuburit (kebetulan waktu itu pas lagi puasa) plus bukpusbar sama beberapa teman.
Besoknya rahang dan amandel saya makin bengkak. Ternyata rahang yang bengkak itu akibat kelenjar limfe yang ada di leher juga ikut membengkak. Kayaknya sih infeksinya sudah agak parah. Lalu si mimisan terus muncul, kali ini dibarengi lendir yang kental. Karena takut ada apa-apa yang serius akhirnya saya pergi lagi ke dokter THT lain di RS Proklamasi. Karena gak tau harus ke dokter yang mana, saya memasrahkan diri kepada petugas untuk memilihkan dokter THT yang sedang praktek. Ternyata pilihan si petugas ini gak sesuai dengan saya. Selain si dokter agak judes...dia juga terus-terusan bilang kalau amandel saya harus dioperasi. Bukannya bikin tenang malah bikin makin panik -______-" cuma untungnya beliau cukup kooperatif. Ketika saya menginformasikan kalau saya masih menyusui, beliau memberikan resep yang aman untuk ibu menyusui. Alhamdulillah dalam waktu 3 hari, perlahan tapi pasti amandel saya membaik dan setelah hari ke 5 amandel dan kelenjar limfe saya kembali ke ukuran normal *yeay!*.
Untunglah selama sakit dan mengkonsumsi berdosis-dosis obat plus antibiotik itu gak ada masalah berarti dalam menyusui. Plus si bocah juga sejauh ini gak apa-apa :D padahal sempet kuatir juga si bocil kena side effect obat yang mungkin masuk ke ASI. Luckily setelah browsing-browsing obat-obat yang saya konsumsi memang aman untuk busui hehehehe. Moral of the story...ternyata cara cepat (dan gak enak) jadi kurus itu adalah sakit (salah fokus)....ehem okay fokus...jadi moral of the story memang masakan rumahan itu yang terbaik...selain tau takaran dan apa campurannya juga pastinya lebih bersih dan sehat.
Tuesday, May 21, 2013
Cikal Main-Main
![]() |
| go sachi go! |
| Sachi lagi main "Ball to the Bowl" |
![]() |
| sachi main di playground |
| Sachi lagi dengerin penjelasan om tentang nama buah |
| sebelum belajar yuk doa dulu |
| dengerin om sama tante nyanyi |
| the little musician |
Overall kita senang sekali ada event semacam ini. Selain bisa free trial *ehem emak2 demen gratisan* Sachi juga dikenalkan sama berbagai macam permainan dan bisa belajar sosialisasi sama kakak-kakak dan teman-teman yang ikut main di sana. Kalo ada lagi pasti kita dateng lagi.
all photo courtesy of ayahnya Sachiko ^^
Monday, May 20, 2013
Dear Diare
Setelah diperiksa dan ngobrol sama dsa nya beliau merujuk untuk dilakukan cek faeces. Tapi karena itu udah malem banget dan faeces yang bisa di cek harus yang segar dan bukan yang ada di popok jadilah kita pulang dulu untuk istirahat. Besoknya pagi-pagi sekali setelah faeces Sachi berhasil ditampung, ayah langsung
Hasil labnya menunjukkan Sachi positif kena rotavirus, lalu ada darah samar dan lendir di pupnya, hasil cek bakteri dan ragi positif, leukositnya cukup tinggi (100-120, normal 1-3) erytrositnya juga tinggi (10-15, normal 0-1) dan yang bikin panik pada hasil cek AMOEBA tertulis TERLIHAT KISTA *jengjreeeenngg*. Panik, langsunglah bunda meluncur ke mbah google buat cari tahu kira-kira Sachi sakit apa. Hasil googling sih menunjukkan Sachi kena Amoebiasis, jadi diarenya karena amoeba. Cuma untuk lebih pastinya memang lebih baik dikonsultasikan dengan dsa. Karena hari itu hari minggu jadi ayah dan bunda cuma bisa sabar nunggu hari senin tiba.
Tadi pagi, setelah heboh dan buru-buru ke rs buat ngobrol dengan dsa yang kemarin menangani Sachi (yang ternyata sudah selesai prakteknya jadi ngobrol by phone *ngok*), Sachi terindikasi kena infeksi bakteri. Tau darimana? Well, karena hasil labnya menunjukkan leukositnya cukup tinggi. Alhasil Sachi diberikan resep Antibiotik untuk membantu melawan bakteri jahat di tubuhnya. Lalu yang hasil cek amoeba nya menurut dsa nya tidak apa-apa (semoga benar demikian aamiin!), tapi yang harus dikhawatirkan ya leukositnya yang tinggi itu. Sempat ragu sih...memang harus ya AB? Tapi...kalau merujuk hasil lab nya sih yah memang demikian adanya. Sempat sih kepikir buat konsul lagi ke dsa sachi saat ini, tapi pasien beliau hari ini full T_T. Jadi Bismillah saja deh semoga feeling ayah bundanya dan diagnosa pak dokternya gak salah. Tapi Alhamdulillah sejak kemarin siang Sachi sudah berhenti diarenya. Tadi pagi pun sudah pupup tapi tidak cair seperti kemarin. Semoga diarenya sudah berlalu.... *aamiin!*
Tuesday, April 16, 2013
A Nightmare Called Sepsis
According to mayoclinic sepsis is a potentially life-threatening complication of an infection. Sepsis occurs when chemicals released into the bloodstream to fight the infection trigger inflammation throughout the body. This inflammation can trigger a cascade of changes that can damage multiple organ systems, causing them to fail. In my mom's case her kidney fail and it makes her lungs filled with water and it makes her sepsis progresses to septic shock which make her blood pressure drops.
She progresses at the first week but it turns out her lungs aren't able to pump the oxygen throughout her body. So when the doctor try to stop the ventilator, she weren't able to breath and it leads her to vegetative state, a condition when the patient looks like awake but she's not aware of her surroundings. It really is heartbreaking to see her like that. But it brings us closer as a family. After 3 weeks without any progress, my dad decided to bring her home and do a home care with a slight of hope that she'll get better once she's home.Yet God has a different plan for her.
That afternoon, my dad just came after preparing the house for her coming. He walks towards the ICU with the home nurse to check the ongoing treatment. Meanwhile, I decided to go to the office..and meet them at home later in the evening. I just paid my transjakarta ticket when my dad called me and told me to go back to the hospital. Confuse, I threw my ticket away and walk back. And then I saw her...fighting for her life. I feel numb, my brain freeze and I can only pray for her best and that was when the doctor called her time of death. So I guess that was the answer to my pray. I believe she is happier and safe now, yet no words can't describe how much I miss her.
Tuesday, January 1, 2013
Sachiko ONEderful Birthday
Untuk ulang tahun yang pertama ini kami sengaja tidak bikin pesta gede-gedean. Kami cuma bikin acara syukuran kecil-kecilan aja bareng keluarga dan pas bangun pagi bikin "ritual" tiup lilin bertiga setelah mandi pagi.
| sebelum tiup lilin |
Buat ritual tiup lilinnya rasanya gak afdol banget kalo ga ada kuenya. Jadilah sehari sebelumnya saya bolak balik nyari resep kue di internet and then I found this yummy banana cake without baking powder recipe from cosy bake blog. Wiii pas banget! Apalagi mengingat kue ini buat si bocah...jadi semakin sedikit bahan tambahan semakin baik tentunya! Resepnya cukup mudah diikuti dan hasilnya...voila! A simple yet tasty birthday cake *banana dance*
Buat icingnya saya ambil resep dari wholesome babyfood salah satu web bible MPASI Sachi selama ini *big grin*. Hasilnya...bunda sama ayahnya aja DOYAN!!!
Berikut saya share (dan translate) resepnya dan penampakannya (maaf ya gak ada penampakan kuenya yang sendiri)
Banana Cake
Makes 1 frosting for a 2 layer cake
1 pak (8 ons = sekitar 230 g) cream cheese
100 g gula
350 ml heavy cream (saya pakai whipped cream cair Anchor)
Cara:
1. Kocok cream cheese, gula, garam, dan vanilla sampai lembut. Di mangkok terpisah, kocok heavy cream hingga kaku.
| Make a wish kiddo! |
| Happy Birthday! :D |
Tuesday, December 4, 2012
Meet Roseola
Esok harinya karena merasa kuatir saya pun memutuskan untuk konsul ke dsa. Kebetulan karena dsa yang biasa menangani Sachi sedang tidak praktek, akhirnya kami memutuskan untuk konsul ke dsa lain dulu untuk mendapatkan diagnosis. Beliau menyarankan untuk tetap disusui dan diberikan banyak minum sambil dipantau sampai hari ketiga. Menurut beliau penyakit karena virus biasanya baru ketahuan setelah hari ketiga. Tapi jika padah hari ketiga belum juga turun suhu tubuhnya, beliau menyarankan untuk melakukan cek darah.
Ternyata di hari ketiga panasnya belum juga turun. Merasa gak tega untuk melakukan cek darah, kami memutuskan untuk kembali ke dsa esok harinya. Eh...besok paginya suhu tubuh sachi malah mulai berangsur normal! Tapi karena kuatir, kami tetap memutuskan ke dsa. Karena panasnya disertai juga dengan batpil...si dsa mengdiagnosa sachi dengan common cold. Ternyata diagnosa itu salah.
Sore harinya saya mendapatkan telepon dari rumah yang mengatakan Sachi rewel dan muncul merah-merah di tubuhnya. Panik dan bingung saya langsung menelepon ayah dan bergegas pulang ke rumah. Selama perjalanan pulang saya langsung berkonsultasi dengan beberapa sahabat...dari situlah saya mulai berkenalan dengan ROSEOLA. Begitu pulang dan melihat kondisi Sachi saya mulai yakin kalau dia terkena roseola. apalagi melihat gejalanya yang sama seperti ada yang di mayoclinic yaitu:
- Demam tinggi, kadang di atas 39 decel selama 3 - 5 hari.
- Kadang juga disertai hidung berair, sakit tenggorokan atau batuk
- Kadang juga disertai pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher anak ketika demam
- Begitu demam turun, biasanya mulai muncul ruam yang biasanya mulai dari dada, punggung, perut lalu menyebar ke leher, tangan dan bagian lainnya. Ruam ini tidak menyebabkan rasa gatal dan bisa hanya muncul beberapa jam atau hingga 2-3 hari.
![]() | |
| Kulitnya merah-merah semua :( |
![]() |
| Merah-merah di tangan |
Alhamdulillah hanya bermodalkan ASI (plus parasetamol waktu demam tinggi) dan makan buah, sayur juga banyak minum Sachi berangsur pulih setelah hari ke enam dan pada hari ketujuh ruamnya hampir 80% hilang :D. Emang sih merah-merah plus demam tingginya sempet bikin panik, tapi Alhamdulillah daya tahan tubuhnya lulus ujian!
Wednesday, November 21, 2012
Oh Dear Grannysitter
Sampai saat ini saya masih sering berselisih pendapat tentang cara mengasuh Sachi. Mulai dari saya yang memilih untuk tidak memperkenalkan sufor pada Sachi...mencoba RUM ketika Sachi sakit...sampai naik tekstur MPASI. Basically saya mengerti perbedaan informasi dan kemudahan akses berbagai informasi dulu jauh berbeda dengan masa sekarang. Cuma kadang kok ya susah juga komunikasiinnya. Untungnya sih karena sekarang udah ganti dsa jadi kata-kata sakti "kata dokternya...." bisa dipake lagi hihihihihihi...yah walau kadang gak ngaruh banyak juga.
Satu hal yang saya pelajari adalah semuanya harus dikomunikasikan. Nah susahnya saya ini tipe yang lebih suka ngomong ke teman dibanding ortu sendiri....kenapa? Simply karena waktu dulu kalau saya mencoba cerita kedua orang tua saya langsung memberi saya berbagai nasihat dan tak jarang berujung selisih paham. Bahkan sampai saat ini kedua orang tua saya tidak mengerti benar jobdesk pekerjaan saya sebagai seorang copywriter di agency iklan. Alhasil kalo terpaksa lembur sampai malem ya saya kena semprot T_T. Kayaknya kalo saya lembur mereka mengcap saya sebagai ibu ambisius yang tega ninggalin anaknya sampe malem demi kerja..padahal gak gitu-gitu amat juga :))))).
Pada akhirnya saya belajar untuk memperbaiki cara komunikasi saya dengan orang tua. Yah hal-hal simpel seperti saya harus pulang terlambat karena lembur pun mulai saya komunikasikan (dulunya gak pernah sama sekali). Saya juga belajar mencari celah untuk mengkomunikasikan alasan saya dan cara pengasuhan saya kepada mereka (even belum semua diterima juga).
But overall saya merasa bersyukur kedua orang tua saya (terutama mama) masih mau direpotin buat ngurus cucu di usianya yang sudah tidak muda lagi. Mudah-mudahan mereka masih diberi kesehatan jadi bisa ikut main sama cucu yang kedua...ketiga...keempat...kelima...dan cucu cucu berikutnya...amiiinnn.
Wednesday, November 14, 2012
Sedia Stok Sabar Sebelum Terlambat
Kemarin kesabaran saya pun kembali diuji. Entah karena terlalu capek atau rindu nenen, Sachi GTM hampir seharian. Cuma beberapa suap yang masuk dan setelahnya....dia merajuk ke bundanya lalu merogoh-rogoh baju saya...minta nenen :))))))). Saya coba membujuk Sachi agar mau menghabiskan paling gak setengah porsi makanannya terlebih dahulu, tapi yang kejadian malah si bocah nangis. Akhirnya karena Sachi juga terlihat mengantuk, saya coba tidurkan dulu bocahnya. Ehyakok malah tambah kejer nangisnya. Merasa bingung, capek, laper (plus kesel sama si ayah) akhirnya saya malah kelepasan ngebentak Sachi :(((((((.
Saya kesal sih sama diri saya sendiri, kenapa saya gak cukup sabar dalam menghadapi anak sendiri. Apalagi bocahnya masih bayi dan belum bisa ngomong...ya wajar aja dia nangis buat mengkomunikasikan apa yang dia mau. Di sisi lain, ibu adalah manusia yang biar bagaimanapun juga tetap punya batas sumbu kesabaran. Well...like it or not being a parent means more patience. Sabar menanti perkembangan motorik anak...sabar mengajari anak apa yang boleh dan yang tidak...sabar menyuapi anak...sabar menemani anak belajar...dan segudang sabar sabar lainnya. Being a parent also means we'll learn something everyday...dan hal itu tampaknya juga termasuk belajar sabar.
Tuesday, October 16, 2012
Topi Pak Koko
Ia memakai topinya ketika jalan-jalan.
Ia memakai topinya ketika menyanyi di atas daun teratai
Ia memakai topinya ketika mengunjungi keluarga ikan mas di dalam sungai.
Ia memakai topinya ketika tidur...bahkan ketika sedang mandi!
Suatu hari datang sebuah angin yang kencang! Semua hewan di kolam langsung berlindung di balik bendungan yang sudah dibangun para berang-berang. Tapi sayang anginnya terlalu kencang, sehingga topi Pak Koko ikut terbawa hembusan angin dan tersangkut di atas pohon.
"Tolong! Topiku tersangkut di atas pohon!" teriaknya. Mengetahui hal itu, hewan-hewan lain berusaha membantunya. Mereka mencoba mengambil topi dengan saling menggendong, dengan galah...tapi sayang usaha itu gagal.
Beruntung seekor burung merpati lewat di atas kolam, seketika Pak Koko langsung meminta pertolongannya. "Tolong aku burung merpati...topiku tersangkut di atas pohon." pinta Pak Koko. Mendengar itu burung merpati langsung mengambilkan topi itu dan memberikannya kepada Pak Koko. "Terima kasih burung merpati!" ucap Pak Koko.
"Tapi kenapa topi kumal ini terlihat begitu penting untukmu?" tanya burung merpati.
"Topi ini sudah melindungiku dari panasnya matahari dan juga derasnya hujan...tanpanya mungkin aku sering jatuh sakit akibat kepanasan atau kehujanan. Topiku selalu setia padaku dan juga menjagaku." jawab Pak Koko Sambil menepuk-nepuk topinya.
Mendengar hal itu hewan-hewan di kolam akhirnya mengerti, mengapa Pak Koko selalu memakai topi.
@mie 2012
Monday, October 1, 2012
ASI Saya Cukup Kok!
Namun kenaikan bb Sachi yang tidak signifikan selalu membuat para dsa-nya mengkambinghitamkan ASI bundanya. "ASI ibu kurang, kalau kayak gini sih mending ditambah susu bu," begitu kira-kira kata mereka. Sedih? Jangan ditanya...tiap kali kalimat itu mampir ke telinga saya rasanya saya mau teriak dan menunjukkan foto stok ASIP saya di rumah. Saya tidak mendewakan ASI saya...tapi entah mengapa saya yakin kalau ada masalah lain yang menyebabkan bb Sachi sulit naik. Kecurigaan saya ini memang belum terbukti, karena si ayah tidak mau lagi mengantarkan kami untuk peds hopping. "Asal anaknya sehat, aktif, dan perkembangan motoriknya bagus ya gak papa," begitu kata ayah. Sayang nininya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat itu, ia lebih percaya kata dsa Sachi yang kebetulan adalah dsa saya waktu kecil dulu dan bertitel profesor. Padahal bisa jadi beliau menuduh ASI kurang karena beliau belum teredukASI dengan baik tentang ASI.
Sebulan yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan kotak susu formula di lemari dapur. Kesal, sedih, marah, kecewa...semuanya jadi satu. Apalagi begitu saya tanpa sengaja mengetahui Sachi diam2 diberi sufor ketika saya tinggal kerja. Saya langsung menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya saya berhenti kerja dan hanya mengurus Sachi di rumah, walau memang hal itu belum bisa dilakukan. Saya merasa berjalan sendirian...berjuang sendirian...dan terus menerus diserang dari kanan dan kiri.
Saya sudah coba mengedukASI si nini lewat artikel, mengutip dsa teman, mengutip dsa yang sebelumnya...tapi kayaknya semua cuma selewat aja. Pernah juga saya mencoba mengajak Nini ke dsa lain buat cari second opinion, sayang usulan saya ditolak. "Anakmu sehat gini kok...ngapain ke dokter lain?" begitu katanya. Setiap saya coba bertanya atau coba ajak ngobrol nini hanya bilang kalau ia tidak memberi sufor...walau kenyataannya sering kali terlihat berbeda. Miris memang, di saat ibu lain berjuang agar anaknya tetap mendapatkan ASI meski kejar tayang atau terpaksa menyerah ke sufor karena memang ASI nya kurang...saya yang ASInya berkecukupan dipaksa "mengalah" dengan sufor.
Jujur saat ini saya tidak tahu lagi harus bersikap apa. Saya hanya bisa berharap dan berdoa agar nini dibukakan hatinya untuk bersedia mendengarkan saya dan bersikap layaknya satu tim dengan saya.












